Studi Budaya Kelas XI IPS : Menghargai Perbedaan

13-studi sosial budaya - menghargai perbedaanPelajaran Sosial yang sesungguhnya adalah berinteraksi dengan masyarakat bukan hanya dengan buku maupun media sosial. Oleh karena itu, siswa kelas XI-IPS menggelar Studi Budaya dan Religi 2016. Studi Budaya merupakan agenda tahunan khusus untuk penjurusan IPS kelas 11 (Studi Ekskursi untuk kelas XI-IPA) di SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya. Tahun ini, Studi Budaya dan Religi yang mengusung tema Multikulturalisme dan Pruralisme ini diselenggarakan selama 2 hari 1 malam (21 – 22 Maret 2016).

Tidak hanya mengunjungi satu tempat saja, rombongan siswa dan guru dengan total sekitar 150 orang mengunjungi 7 tempat sumber budaya, sejarah dan tempat keagamaan di Surabaya, Mojokerto dan Jombang. Perjalanan di mulai pukul 6 pagi, dengan total 4 bis yang tersebar ke 4 tujuan; Gereja Jawi Wetan Mojowarno; Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria Kepanjen; Masjid Sunan Ampel Surabaya; dan Pura Agung Jagat Karana.

Tak berhenti disana, semua bus terarah menuju ke Museum Majapahit di Trowulan, Mojokerto. Penelitian sejarah pun dilaksanakan dan didampingi dengan kunjungan-kunjungan ke beberapa candi di sekitar museum. Candi-candi yang sempat di kunjungi yaitu Candi Bajang Ratu, Candi Tikus dan Candi Brawu. Dari perjalanan yang lebih fokus kepada unsur Sejarah, juga banyak ditemukan bukti-bukti multikulturalisme dari zaman Majapahit. Setelah puas melakukan penelitian sejarah, rombongan bertolak menuju ke Maha Vihara Majapahit letak Patung Buddha Tidur yang terkenal sekaligus lokasi rombongan menginap.

Pada malam harinya Bante Nyanavira (salah satu biksu yang membina Vihara tersebut) juga turut memberikan pandangannya terhadap multikulturalisme berdasarkan pandangan ajaran Buddha. Kegiatan pada hari pertama ditutup dengan kegiatan malam kebersamaan yang mempererat persaudaraan antar kelas IPS.

Hari kedua dihabiskan siswa-siswi XI-IPS untuk berkunjung ke Pondok Pesantren Tebuireng dan Tempat Ibadah Tri Darma Hong San Kiong (Klenteng Gudo) yang keduanya terletak di Kota Jombang. Banyak hal yang didapat siswa-siswi selama perjalanan ini. Kelompok 3 kelas IPS1 yang berkesempatan mengunjungi Masjid Sunan Ampel Multikultural memperoleh penjelasan bahwa ”Rasisme yang selama ini menjadi isu sensitif bukanlah sesuatu yang benar, karena semua manusia diciptakan oleh Tuhan yang sama.“ dari Ustadz Zeid yang menemani para siswa selama di Masjid Sunan Ampel, hal senada juga didapatkan dari hasil forum diskusi dengan tokoh-tokoh agama setempat lainnya.

Kita tidak bisa terus bertameng kepada perbedaan, tidak akan pernah ketemu.” ujar Ir. Abdul Ghofar Sekretaris Pondok Pesantren Tebuireng. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, dengan adanya perbedaan kita tidak bisa terus berperang, melainkan harus berdamai dan menghargai sehingga terbentuk masyarakat yang multikultur bukan majemuk lagi.

Oleh : Lisa Oktiviani Tanaga (XI-IPS1)

Leave A Comment...

*