Imersi 2017 : Memaknai Kesederhanaan di Kaki Pegunungan Seribu

Salah satu aktivitas siswa dalam membantu induk semangnya.

Salah satu aktivitas siswa dalam membantu induk semangnya.

Imersi merupakan agenda tahunan yang wajib diikuti oleh siswa-siswi kelas XI Sinlui (sapaan akrab untuk SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya). Kegiatan ini bertujuan agar para siswa bisa belajar dan mendalami kehidupan yang “sesungguhnya” sehingga siswa dapat lebih menghayati nilai-nilai Vinsensian (kesederhanaan, kerendahan hati, kelembutan hati, mati raga, dan menyelamatkan jiwa-jiwa).

Rangkaian kegiatan Imersi 2017 diawali dengan pengarahan umum di Vincentius Hall Sinlui, pada hari Senin(9/1). Di hari tersebut, diselenggarakan pula misa pelepasan Imersi. Misa dipersembahkan oleh Romo Emmanuel Ditia Prabowo. Menurutnya para siswa harus berani “menyemplungkan” diri ke dalam kehidupan orang lain dan melibatkan diri dalam kesederhanaan.

Selasa(10/1) pagi, 548 siswa kelas XI Sinlui beserta guru-guru pendamping dengan dresscode merah (Yogyakarta) dan putih (Solo)berkumpul di Aula Gedung Daerah Operasi Delapan (DAOP 8) Stasiun Gubeng Baru. Di Aula DAOP, beberapa anggota Departemen Organisasi dan Politik (Garda) menggeledah barang bawaan siswa. Bapak Tavip Yudianto, selaku guru pembimbing, optimis para siswa 100% sukses menjalani Imersi. Sekitar pukul 10.50 WIB, kereta api Logawa yang mengangkut siswa-siswi kelas XI Sinlui meninggalkan Stasiun Gubeng menuju Stasiun Lempuyangan Yogyakarta.

Para peserta Imersi dibagi ke dua wilayah yang berbeda, yaitu: Wonogiri (Solo) dan Wonosari (Yogyakarta). Hal ini dilakukan agar tidak terlalu banyak siswa pada daerah yang sama. Selama empat hari Sinluiers berproses dengan mengikuti aktivitas penduduk lokal. Desa-desa di Wonogiri dan Wonosari terletak di kaki Pegunungan Seribu sehingga mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Di Dusun Jati, Wonosari, Sinluiers juga menggelar acara perpisahan dengan mempersembahkan “remake” lagu LOS menjadi lagu Imersi dan drama.

Meskipun para siswa dan juga warga mengaku masih ingin bersama lebih lama, siswa-siswi Sinlui harus meninggalkan desa pada hari Jumat (13/1). Pukul 6 pagi, truk-truk sudah datang untuk menjemput para siswa dari setiap desa. Setelah mengucapkan salam perpisahan dan saling mendoakan keberhasilan satu sama lain, para siswa menempuh perjalanan pulang. Kereta api Pasundan yang membawa mereka pulang tiba di Stasiun Gubeng Surabaya sekitar pukul 10.00 malam.

“Tidak cuma belajar tentang perjuangan hidup dan mendapat keahlian berladang, berternak, dan memasak, melalui Imersi kami juga mendapatkan rumah kedua dan arti sebuah keluarga,” ujar Stephanie Aimee (XI IPA 1).

“Sebelum Imersi ini, aku sering bertanya-tanya apa yang mendorong seorang anggota keluarga mau berkorban demi keluarganya, seperti seorang ayah yang bekerja membanting tulang? Di Desa Pok Dadap, Wonosari, aku menemukan jawabannya. Adalah cinta yang tulus yang memampukan kita melakukan sesuatu yang di luar batas kemampuan kita. Seperti ibu rumahku yang bisa menjaga api tungku, memasak untuk sekeluarga, dan menyusui bayinya di saat bersamaan. Ketika kita melakukan sesuatu dengan tulus, yang kita lakukan bukanlah pengorbanan melainkan pengabdian,” ujar siswi yang mengikuti Imersi di Desa Pok Dadap, Wonosari, Daerah Istimewa Yogyakarta ini.

Oleh : Redemptsia Quinn Elsa (XI IPA  1)

Leave A Comment...

*