Sejarah St. Louis 1

 

gedung peninggalan belanda sma katolik stlouis 1 surabayaPeriode I. Periode BroedersSchool Krembangan (1862 – 1922)

Pada tanggal 12 Juli 1810, Romo Hendricus Waanders dan Romo Philipus Wedding datang dari Belanda. Romo Wedding bertugas di Batavia dan Romo Waanders menetap di Surabaya. Romo Waanders mendirikan rumah sekaligus digunakan untuk gereja di jalan Gatotan. Pada tanggal 10 Maret 1811 sudah mulai ada orang yang dibaptis untuk pertama kalinya. Sejak Romo Waanders meninggal, penggembalaan di Surabaya diserahkan kepada Ordo Jesuit. Mgr Fracken, Vikaris Apostolik di Batavia berhasil memperoleh imam-imam Jesuit untuk misinya. Pada tanggal 09 Juli 1859 Pater Vanden Elzen, SJ dan Pater Palinckx, SJ tiba dan ditempatkan di Surabaya. Pater Vanden Elzen melihat bahwa misi di Surabaya tidak akan berhasil kalau tidak ada lembaga pendidikan yang bersedia mendidik anak – anak.

Pater Vanden Elzen berusaha memanggil Bruder CSA dari Oudenbosh, Belanda untuk berkarya di Surabaya mendidik anak laki-laki. Vader Vincentius pimpinan bruder CSA Oudenbosh mengutus 4 orang bruder ke Surabaya pada tahun 1862 :

  • Bruder Engelbertus
  • Bruder Stanislaus
  • Bruder Antonius
  • Bruder Felix

Pada tanggal 07 Juli 1862, sekolah katolik dibuka dan dimulai dengan 20 murid. Mereka memulai sekolah dasar Bijzondere Europeesche Lagere Jongens Schools (ELS) dengan menggunakan ruang kelas di sebelah Bruderan. Sekolah semakin hari semakin berkembang, banyak orang tua murid yang menaruh kepercayaan kepada para bruder. Broederschool di Krembangan (daerah Jl. Kepanjen) mengalami perkembangan yang pesat sekali di bawah pimpinan Overste Br. Engelbertus.

 

II. Periode Broederschool Coen Boulevard (1923 – 1950)

Kota Surabaya mengalami perkermbangan yang pesat sehingga kongregaasi memutuskan untuk memindahkan sekolah keluar kota Surabaya yaitu di daerah Wonokromo. Batas kota waktu itu di Kaliasin. Sampai pada tahun 1923 Brusder CSA memindahkan sekolah mereka di jalan Dokter Sutomo (Coen Boulevard 7) sekarang menjadi jl. Polisi Istimewa dan Suster Ursulin memindahkan sekolah mereka ke jalan Darmo (Darmo Boulevard). Perumahan Belanda di Darmo ini dilengkapi dengan saran pendidikan yaitu St. Louis untuk pendidikan anak laki – laki dan St. Maria untuk pendidikan anak – anak perempuan. Selain sarana pendidikan, perumahan ini juga dekat dengan gereja Katedral (Coen Kerk) dan rumah sakit Darmo.

Gedung Broederschool yang terletak di Coen Boulevard 7 ini dibangun dengan arsitek Hulswit, Fermont & Ed. Cuypers dari Weeteenreden Batavia. Gedung ini mulai digunakan pada tahun 1923 sebagai sekolah dasar. Pada tahun 1942, Jepang datang menjajah Indonesia, sehingga banyak orang Belanda dibunuh atau dipenjara oleh tentara Jepang. Pada tahun 1943, Broederschool digunakan untuk markas Polisi Istimewa yang dipimpin oleh Moehammad Jasin. Setiap hari pasukan Polisi Istimewa ini mengadakan latihan baris – berbaris di halaman sekolah. Gedung St. Louis ini menjadi saksi bisu para pelaku sejarah kemerdekaan Indonesia di Surabaya dan menjadi cikal bakal brigade mobil (satuan kepolisian Brimob). Di bagian depan St. Louis, juga terjadi peristiwa pengibaran bendera merah putih yang pertama kalinya di Surabaya pada Minggu 19 Agustus 1945.

III. Periode SMA Katolik St. Louis Dr. Soetomo (1951 – 1974)

Setelah beberapa tahun gedung St. Louis dipinjam untuk markas dan asrama Polisi Istimewa, pemerintah Indonesia mengembalikan gedung sekolah ke bruder CSA sehingga dapat digunakan kembali sebagai sekolah. Sesudah orang Belanda pergi kembali ke negeri Belanda, maka dibukalah SMA berbahasa Indonesia. Pada tanggal 01 Agustus 1951 dimulai dan dibuka satu kelas SMA di salah satu ruang kelas dekat dengan asrama Bruder (sekarang Soeverdi). Setiap tahun kelas terus bertambah sampai seluruh gedung terpakai semua untuk pendidikan SMA. Inilah awal dari SMA Katolik St. Louis 1 yang merupakan transformasi dari Broderschool. Sejak tahun 1951 inilah usia SMA Katolik St. Louis 1 dimulai.

IV. Periode SMA Katolik St. Louis 1 – Lazaris (1975 – 2000)

Merupakan periode dimana St. Louis 1 mulai berpindah pengelolaan. Dari Bruderan CSA, St. Louis 1 diserahkan kepada Romo Kongregasi Misi (CM). Sejak tahun 1976 dimulailah membuka pendaftaran siswa perempuan pertama kalinya karena St. Louis awalnya memang dikhususkan untuk pendidikan anak laki-laki. Karena peminatnya yang banyak, SMA Yos Sudarso yang menyewa gedung St. Louis untuk sekolah di siang hari ikut melebur menjadi SMA Katolik St. Louis 1 siang.

V. Periode SMA Katolik St. Louis Pagi (2001 – 2011)

Setelah bertahun – tahun SMA Katolik St. Louis membagi kegiatan belajar dalam 2 bagian, pagi 07:00 – 12:30 untuk SMA kelas 1 dan 3. Sekolah siang 13:00 – 18:30 untuk siswa SMA kelas 2, akhirnya pada tahun 2004 dimulailah pembangunan gedung baru untuk menampung siswa – siswa yang bersekolah disiang hari. Tepat mulai tahun ajaran 2005 semua siswa SMA Katolik St. Louis dapat 100% bersekolah di pagi hari.

Semakin berkembangnya sekolah, banyak sekali prestasi yang diraih oleh para siswa dibidang akademis dan non akademis di level nasional maupun internasional. Berbagai perbaikan fasilitas sekolah dilakukan supaya kegiatan belajar mengajar bisa berjalan dengan nyaman dan efektif. Sarana berdoa yaitu kapel St. Mary Medal dan perpustakaan St. Thomas Aquino pun dibangun untuk melengkapi perkembangan iman dan ilmu pengetahuan para siswa. Taman – taman yang ditata asri dengan tujuan penghijauan lingkungan diharapkan dapat menginspirasi siswa agar setelah lulus dari SMA Katolik St. Louis merea terbiasa memperhatikan lingkungan dimana mereka hidup.