Visi Misi

santo vincentius pelindung sma katolik st louis 1

Santo Vincentius

Per sabtu, 28 Maret 2015 SMA Katolik St. Louis 1 resmi memiliki Visi dan Misi sekolah yang baru. Setelah lebih dari 10 tahun, Sinlui memutuskan untuk memperbarui Visi dan Misi sekolah. Perbaharuan konsep sekolah ini disosialisasikan langsung oleh Romo Sigit selaku kepala SMAK St. Louis 1 Surabaya di ruang media 1 dalam acara St. Louis Saturday Conference yang dihadiri oleh semua guru dan karyawan SMAK St. Louis Surabaya.

VISI

Sekolah Katolik berkarakter Vinsensian terdepan dalam mewujudkan pribadi beriman mendalam, unggul dalam moral, cerdas intelektual, peduli pada lingkungan hidup serta cinta pada sesaama terutama yang lemah dan terpinggirkan.

Misi

  1. Membangun spiritualitas lewat pendidikan katolisitas dan keutamaan vinsensian.
  2. Mengembangkan nilai – nilai kehidupan yang terintegrasi ke dalam praktik belajar – mengajar.
  3. Menata pembelajaran yang tanggap terhadap perkembangan ilmu, teknologi, seni dan budaya, serta berwawasan lingkungan hidup.
  4. Melaksanakan pendidikan solidaritas dan pengabdian kepada masyarakat.

 

SPIRIT / KEUTAMAAN :

1. Kesederhanaan (Simplicitas)

St. Louis mendasarkan praktik pendidikannya pada KESEDERHANAAN. Menurut St. Vincentius de Paul, kesederhanaan itu “pertama-tama berarti mengatakan kebenaran” (SV XII, 172 – 14 Maret 1659). St. Vincentius de Paul menasihatkan, “kalau menyangkut kemuliaan Allah dan keselamatan orang miskin, kita tidak boleh takut mengatakan kebenaran” (SV IX, 192). Mengatakan kebenaran adalah wujud hidup sederhana. Karena itu, pendidikan sekolah ini adalah praktik penghayatan kesederhanaan. Bila ada kesederhanaan, disitu dapat ditemukan Allah. Allah adalah kesederhanaan itu sendiri yang esa secara sempurna (DBSV V, 36). Tujuan utama dari semua peziarahan pendidikan St. Louis adalah mewartakan kebenaran, yaitu, terwujudnya pribadi yang tulus, jujur, polos dan lurus.

2. Kerendahan Hati (Humilitas)

Pendidikan St. Louis mengutamakan KERENDAHAN HATI. Rendah hati merujuk pada pemahaman bahwa kita “hanyalah alat hina yang dipergunakan oleh Allah” (DBSV V, 77) untuk kesejahteraan sesama dan kemuliaan Allah (DBSV V, 73). Pendidikan St. Louis berupaya mewujudkan pribadi yang “tahu berterima kasih” (DBSV V, 209 – 09 April 1651), melayani (DBSV V, 187), perantara (DBSV V, 77), dan pribadi yang meneladani Perawan Maria yang rendah hati (SV . I, 504). Untuk itu pendidikan St. Louis senantiasa mewaspadai kesombongan, ambisi, kecongkakan (DBSV V, 73), dan menghindari sikap angkuh (DBSV V, 158) karena akar dari segala kejahatan dan dosa adalah kesombongan. Dimana semuanya itu, “kasih adalah jiwa semua keutamaan, dan kerendahan hatilah yang menarik dan menjaga keutamaan-keutamaan itu.” (DBSV V, I)

3. Kelembutan Hati (Mansuetudo)

Dalam seluruh relasi sosialnya, St. Louis selalu melandaskan perilakunya pada keutamaan KELEMBUTAN HATI. Kelembutan hati ialah pembuka pintu hati (DBSV. V, 86) menuju komunikasi yang santun, beradab dan humanis. “Tidak ada orang yang lebih tekun dan kuat dalam kebaikan daripada mereka yang lembut dan ramah.” (DBSV. V, 85). Karena itu, pendidikan St. Louis diarahkan untuk membentuk karakter yang lembut, luhur, dan mulia (DBSV V, 47). Pendidikan St. Louis berjuang meraih kelembutan hati dan kerendahan hati, dua saudara kembar yang sangat rukun dan tak terpisahkan, seperti halnya ketulusan dan kebijaksanaan (SV XII, 184).

 

BUDAYA :

Berajud Tali (Bersih, Ramah, Jujur, Disiplin, Tangguh, Peduli)

 

MOTTO :

Be Excellent in Faith and Knowledge