UnBalievable - Prom Night angkatan 2012-2015 di Ayodya Resort and Hotel Bali

UnBalievable – Prom Night angkatan 2012-2015 di Ayodya Resort and Hotel Bali

Senin (20/04) setelah menggelar Misa Kudus bersama di sekolah, tepat pk 20:30 kelas XII angkatan 2012-2015 bertolak menuju ke pulau Dewata, Bali, Indonesia. Mereka akan menjalani rangkaian acara perpisahan sekaligus prom night setelah melalui rangkaian ujian kelulusan. Tahun ini, acara perpisahan akan diadakan selama 5 hari 4 malam dan diikuti oleh 13 kelas bersama walikelas dan guru-guru pendamping lainnya. Selama di Bali, acara akan dibagi menjadi 2 macam yaitu, acara kelas dan acara angkatan. Acara yang bertajuk “UnBALIevable” ini mencapai puncaknya pada hari Kamis (23/04)  saat memasuki acara prom night di taman Ayodya Resort, Bali (outdoor).

Acara prom night merupakan acara puncak yang menyebabkan mixed feelings, menurut beberapa siswa kelas XII. Ada rasa senang karena bisa liburan bersama dengan teman-teman sekelas dan seangkatan, tetapi juga ada rasa sedih, karena waktu berjalan dengan cepat dan menghantar mereka ke acara kebersamaan yang terakhir kalinya.

Selama 6x menggelar acara prom di Bali, baru tahun ini acara prom yang digelar di tempat terbuka diwarnai dengan turunnya hujan yang cukup deras. Hujan yang mengguyur lokasi di tengah-tengah acara tidak membuat acara berhenti, hujan seolah melarutkan perasaan siswa ke dalam suasana haru penuh tangis. Rintik-rintik hujan jatuh di saat award guru dibacakan, hingga diputarnya lagu OPS dan video berisi dokumentasi angkatan 2012-2015. Pada sesi tersebut, tangisan para siswa mulai pecah diiringi dengan pelukan, ucapan maaf serta terima kasih kepada teman dan para guru.

Menurut Romo Sigit kepala SMAK St. Louis 1 Surabaya, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, acara kali ini berlangsung dengan lancar dan tertib. Kelas XII tahun ini telah mewujudkan nilai-nilai dari visi misi SMAK St. Louis 1 Surabaya. Beliau juga menambahkan, bahwa tahun terakhir sebagai kelas XII, adalah tahun keemasan para murid. Karena di saat itulah kristalisasi nilai-nilai Sinlui muncul dan murid kelas XII menjadi teladan bagi adik-adik kelas mereka. Ditemui SWEET*, Romo Sigit merasa sedih harus melepas sebagian dari anak-anak didiknya. Tetapi di sisi lain, beliau sangat bangga akan angkatan yang tahun ini harus ia lepas. “Perpisahan memang adalah hal yang lumrah dalam kehidupan. Tetapi terkadang, perpisahan tersebut membuat kita dapat berkembang menjadi lebih baik lagi. Kalau tinggal di tempat yang sama, tidak akan ada perubahan dalam diri kita.” ucap Romo asal Blora Jawa Tengah ini.

– oleh Chella (Contributor SWEET, Sinlui WEbsitE Team)