Selama 4 hari (03 – 06 November 2015) lebih dari 500 siswa kelas XI menjalani Imersi di berbagai daerah di Jawa Timur. Kata Imersi (Immersion) sendiri memiliki arti mencelupkan ke dalam suatu cairan tertentu. Kegiatan rutin tahunan khusus untuk siswa – siswi kelas XI ini memang diadakan dengan tujuan untuk “mencelupkan” para siswa supaya benar-benar terlibat secara total masuk dalam kehidupan dimana siswa tinggal bersama “keluarga” baru di kawasan pedesaan yang jauh dari hingar bingar.

Total ada 17 titik lokasi penyebaran ratusan siswa – siswi kelas XI untuk Imersi 2015 ini :

Malang

  1. Biara Susteran Putri Kasih I
  2. Biara Susteran Putri Kasih II
  3. Seminari Tinggi CM

Blitar Selatan

  1. Stasi Banyu Urip
  2. Stasi Ngadipuro
  3. Stasi Kalitengah
  4. Stasi Kaligambang

Wates Blitar

  1. Stasi Tugurejo
  2. Stasi Mbejirejo
  3. Stasi Gondang Tapen
  4. Stasi Gebluk
  5. Stasi Mirigede

Kediri

  1. Stasi Sumber Bentis
  2. Stasi Kalibago

Ngawi – Bojonegoro

  1. Stasi Sumber Bening
  2. Stasi Piji dan Pluntho

Blora

  1. Wireskat

Selama kegiatan imersi, siswa memang diharuskan hanya membawa baju ganti secukupnya, obat pribadi dan perlengkapan mandi saja. Hal ini tentu untuk mendukung tujuan imersi yang ingin dicapai. Hidup tanpa gadget selama beberapa hari tentu bukan lah hal yang mudah di lakukan generasi muda saat ini. Sesuatu yang tampak sulit diawal ini rupanya dapat dijalani siswa dengan mudah selama Imersi. Menurut pantauan SWEET* yang berkeliling di sebagian besar lokasi Imersi, seluruh siswa nampak menikmati setiap waktu bersama “keluarga baru” nya di pedesaan.

Mereka terlibat langsung dengan keseharian “orang tua” mereka di pedesaan. Mulai dari menyiapkan ladang untuk musim penghujan, membantu menyiapkan masakan, mengajar di sekolah atau langsung ke rumah – rumah yang membutuhkan “guru” untuk anak-anak mereka, sampai dengan memelihara ternak “orang tuanya”.

Menjalani sendiri kehidupan sederhana bersama “orang tua” selama berhari – hari tentu mengubah sedikit banyak cara berpikir siswa selama ini. Hal ini terungkap saat Romo Sigit kepala SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya memimpin Misa syukur di beberapa stasi lokasi siswa Imersi. “Pendapatan orang tua saya setiap hari antara Rp, 0,- s/d Rp. 10.000,- . Tetapi mereka selalu tersenyum dan bersyukur apapun kondisi mereka setiap harinya. Bahkan orang tua saya selalu menyuguhkan makanan dan minuman yang terbaik yang ada di rumah untuk saya dan teman – teman” ujar Amanda yang merupakan salah satu siswa yang diminta memberikan kesan nya oleh Romo Sigit dalam Misa syukur.

Imersi merupakan proses belajar di luar kelas. Siswa dapat belajar secara langsung kepada professor – professor kehidupan (baca: orang tua siswa selama di desa). Kesederhanaan, rasa syukur, senyuman, keakraban dalam rumah, selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anak merupakan contoh – contoh real yang dialami siswa secara langsung, bukan hanya sekedar cerita dikelas. Dalam proses belajar inilah diharapkan seluruh siswa – siswi dapat menemukan Tuhan dalam diri orang – orang sederhana di sekitar mereka” tegas Romo asal Blora Jawa Tengah dalam homilinya.

Sinlui sendiri memiliki 2 tim yang dipimpin langsung oleh Romo Sigit dan Pak Widodo (wakil kepala sekolah urusan spiritualitas). Tim ini berpencar menuju ke seluruh stasi yang ditempati oleh siswa-siswi Sinlui selama Imersi. Selama kunjungan ke setiap stasi, nampak senyuman dan semangat para siswa, mereka menikmati waktu – waktu berharga nya bersama keluarga masing-masing di pedesaan. Para siswa – siswi Sinlui dijadwalkan tiba kembali di sekolah para hari Jumat 06 November 2015. Dan sabtu esok harinya, seluruh siswa akan menjalani proses Refleksi tentang Imersi yang baru saja dilaluinya.

– SWEET (Sinlui WEbsitE Team)