Cerita tentang sekolah binaan saya yang dikenal luas karena keunggulannya baik dalam bidang akademik maupun nonakademik, di kawasan Jalan Polisi Istimewa Surabaya ini seakan tidak ada habisnya.
Beberapa waktu lalu, dalam kunjungan evaluasi kinerja sekolah, saya sempat menyaksikan anak-anak kelas XII sedang berlatih untuk membuat semacam pertunjukan seni peran. Sehingga semua kelas nampak sibuk berkreasi, berlatih dan berkolaborasi.
Siapa sangka, kepala sekolah mengundang saya kembali ke sekolah ini, untuk menyaksikan karya anak-anak kelas XII yang diberi label sebagai ujian praktek.
Proses pembuatan karya seni peran oleh anak-anak ini, juga cukup menarik. Layaknya cara kerja sejarawan, maka sebelum menulis cerita tentang seorang tokoh, anak-anak harus terlebih dahulu menghimpun informasi dari sumber primer. Sehingga ketika memerankan tokoh perintis surat kabar Kompas misalnya, anak-anak harus terlebih dahulu menghimpun informasi dari orang-orang terdekat pendiri surat kabar Kompas tersebut. Setelah semua informasi valid, baru kemudian dibuatlah naskah cerita seni peran yang sedianya alan dimainkan secara kolaboratif oleh anak-anak dalam satu kelas.
Dengan demikian ada semacam standar yang harus dipenuhi dalam penulisan naskah seni peran yang hendak dimainkan.
Saat menyaksikan pertunjukan pun, saya merasakan hal yang luar biasa. Mulai dari pintu masuk, ruang aula, tempat duduk, tata lampu, musik, background, sound system, nampak di kelola dengan profesional. Sehingga saya merasa berada di sebuah gedung pertunjukkan teater profesional.
Oleh karena itu, ajang ujian praktek ini, seakan menjadi ajang pertunjukkan seni teater semi profesional antar kelas.
—
Hal yang sama juga diceritakan oleh seorang wakil kepala sekolah bahwa, kegiatan kokurikuler bagi anak kelas XI, dilakukan dengan memberikan tugas kepada anak-anak untuk melakukan semacam penelitian, tetapi dilakukan berkelompok yang disesuaikan dengan jenjang SMA.
Layaknya sebuah penelitian, diawali dengan pengajuan judul terhadap guru pembimbing, pengajuan proposal, hingga beberapa kali konsultasi. Sehingga prosesnya mirip dengan penulisan skripsi di perguruan tinggi, yang disesuaikan dengan kamampuan anak jenjang SMA.
Setelah selesai melakukan penelitian, hasilnya akan diuji, layaknya ujian skripsi, oleh para guru penguji.
Kokurikuler semacam ini, tentu tidak bisa dilakukan oleh semua sekolah, bila sekolah tersebut belum memiliki Culture of Excelence (Budaya Mutu) yang bagus.
—
Budaya Mutu, (Culture of Excelence) ini juga nampak pada hal-hal kecil di sekolah ini, misalnya, ketika anak-anak OSIS sedang membuat video dalam rangka MPLS. Seorang wakil kepala sekolah berkata, bahwa,
“Ini yang mahal kameranya”
Artinya, untuk membiat video senam dan perkenalan sekolah, yang dikelola OSIS, mereka sampai menyewa kamera profesional, untuk menghasilkan gambar terbaik yang bisa mereka upayakan. Dengan kata lain, dalam pembuatan video pun, anak-anak juga mempunyai standar mutu, sebagai bentuk budaya mutu (culture of excelence) yang baik.
Demikian pula bila kita saksikan TV Sekolah yang sepenuhnya dikelola oleh anak-anak, kita bisa menyaksikan presenter yang sudah semi profesional, pengambilan gambar yang bagus, lay-out yang menarik, dst. Semua mencerminkan Culture of Excelence (Budaya Mutu) yang baik.
Hermawan, 12 Pebruari 2026
(Pengawas sekolah binaan SMA St Louis 1 Surabaya)
