Suatu hari, ketika saya berkunjung ke sekolah binaan saya, peraih nilai UTBK terbaik se Jawa Timur dan pemegang piala tujuh kali berturut-turut DBL Jawa Timur. Saya menemukan pengalaman yang menarik.
Saat itu, seorang wakasek kesiswaan, memutar sebuah film pendek karya anak-anak. Saya melihat film itu dikerjakan dengan begitu baik, nyaris sebuah film profesional. Selanjutnya wakasek berkata,
“Film ini memenangkan juara 1 pada sebuah festival”
“Padahal hanya dikerjakan dalam waktu beberapa hari.” lanjutnya
Sebuah film, apalagi memenangkan sebuah kejuaraan, dikerjakan hanya beberapa hari, tentu sebuah prestasi yang istimewa. Karena pengalaman saya dulu menggarap sebuah pertunjukan teater yang layak tampil, bisa memakan waktu satu sampai dua bulan.
Namun, saya tidak heran. Karena saya tahu jawabannya, mengapa film itu bisa mememangkan sebuah festival walau dikerjakan beberapa hari saja. Jawabannya adalah
kebiasaan, The Power of Habits
Ya, kebiasaan, di sekolah ini, baik guru maupun murid, sudah terbiasa melakukan dan menuliskan refleksi pada hari Sabtu, setelah mereka melakukan ritual ibadah. Kumpulan refleksi yang bagus, baik dari anak-anak maupun dari guru-guru, dipilih kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku antologi setiap kurun waktu tertentu.
Dengan demikian, di sekolah ini sudah ada kebiasaan menulis, ada atmosfer menulis yang sudah membudaya. Sehingga ketika ada lomba membuat film pendek, maka dengan mudah anak-anak menuliskan skenarionya. Hal ini nampak, cerita dalam video itu, mencerminkan kehidupan sehari-hari mereka, yang biasa mereka tulis dalam refleksi.
Demikian pula, dalam pembuatan video (videografi), di sekolah ini sudah ada TV Sekolah yang sepenuhnya dikelola oleh anak-anak. Saya sempat berbincang-bincang dengan beberapa anak pengelola TV Sekolah ini. Dari situ saya mendapatkan kesan, anak-anak demikian merdeka dan profesional dalam mendesain setiap pemberitaan di TV Sekolah tersebut. Demikian pula pengambilan gambar serta editing sepenuhnya anak-anak. Dari yang saya saksikan, saya mendapatkan kesan video reportase dan reporter yang membawakan acara TV Sekolah ini, demikian bagus, layaknya profesional, walau TV tersebut lebih ditujukan hanya untuk kalangan sendiri.
Artinya, mereka sudah terbiasa dengan standar profesional pada setiap karyanya, termasuk karya videografi mereka. Sehingga ketika ada lomba membuat film pendek, mereka bisa mengerjakan dengan mudah, karena hal itu sudah menjadi kebiasaan, rutinitas mereka.
Demikian pula dalam seni peran, mereka setiap tahun, per kelas, membuat karya seni teater, sehingga bermain seni peran sudah menjadi kebiasaan. Oleh karena itu, tak heran mereka bisa memaikan peran dengan baik ketika ada lomba film pendek, walau dengan persiapan beberapa hari saja.
Ternyata bukan hanya film, dalam bidang akademik mereka juga meraih prestasi yang luar biasa, walau nampak dengan upaya yang biasa-biasa saja. Misalnya seorang wakasek ketika mempresentasikan hasil TKA yang demikian bagus, berkata,
“Padahal malamnya, anak-anak bertanding basket dan banyak anak yang ikut menjadi supporter”
Artinya, TKA pun dihadapi dengan tenang, bukan karena mereka abai, tetapi karena sudah membiasakan problem base learning, student centered, dan student agency dalam pembelajaran. Sehingga walau malam sebelum ujian TKA mereka datang bertanding basket atau menjadi supporter, mereka bisa mengerjakan soal-soal TKA dengan baik.
Pendek kata, sekolah ini lebih menekankan kepada kebiasaan dan nilai-nilai, baik nilai-nilai karakter dan nilai-nilai yang mendukung pencapaian. Sehingga menang lomba atau prestasi apapun, terkesan hanya sebagai BONUS dari kebiasaan-kebiasaan baik yang telah mereka jalankan sehari-hari.
Sementara, banyak sekolah yang membuat persiapan sedemikian rupa menjelang lomba, tetapi tidak berhasil meraih juara. Ada pula sebuah sekolah bercerita, bahwa mereka sudah mempersiapkan anak-anak dengan baik menjelang TKA, dengan latihan-latihan soal, tapi hasilnya masih tidak memuaskan.
Mereka belum menemukan formula, The Power of Habit (Kebiasaan)
Hermawan, 03 Januari 2026
