Bertujuan mempersiapkan karir bukan hanya pekerjaan, itulah pedoman dari seminar bertema “Impactful Career Choice” yang diadakan pada Selasa (27/8). Seminar yang ditujukan bagi peserta didik kelas XII ini bertempat di V-Hall SMA Katolik St. Louis 1 dan dibagi menjadi dua sesi. Dipandu oleh dua dosen dari jurusan psikologi dari Universitas Ciputra, peserta didik diajak untuk meniti karir yang tidak hanya menjadi pemenuhan kebutuhan hidup, namun untuk menjadikan karir sebagai pelayanan yang memberikan makna bagi orang lain.

Karir dan pekerjaan seringkali disama artikan, namun sebenarnya keduanya berbeda. Menurut Erza Lanangsanjaya, salah satu dosen Universitas Ciputra, job atau pekerjaan adalah cara seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sedangkan untuk karir berasal dari kata carrus, artinya kendaraan beroda atau kereta muatan. Dari asal katanya, karir dapat diartikan sebagai cara seseorang untuk mencapai tujuan hidupnya. Karir menjadi identitas bagi seseorang dan tujuan sebenarnya dari hidup yang dijalani oleh seseorang.

Peserta Didik saat mengisi angket karir

Didampingi oleh wali kelas, peserta didik diajak untuk melakukan ice breaking untuk mencairkan suasana dan memudahkan interaksi antara pembicara dan peserta seminar. Siswa-siswi yang antusias kemudian diajak untuk mengisi form guna menggali informasi tentang pelajar SMA Katolik St.Louis 1 terkait dengan pekerjaan. Hasil yang ditampilkan menunjukkan mayoritas siswa menyatakan bahwa pekerjaan dilakukan untuk melakukan hal yang disukai dengan tempat yang nyaman bagi diri sendiri. Di nomor dua, alasan seseorang untuk bekerja adalah untuk mencapai tujuan hidup. Dalam hal jenis pekerjaan, peserta didik SMA Katolik St. Louis 1 lebih suka untuk menjadi seorang profesional, misalnya dokter, ilmuwan, sejarawan. Disusul dengan membuka start up bisnis. Responden menunjukkan faktor yang paling penting dalam pemilihan pekerjaan adalah mengembangkan diri dan selanjutnya adalah masalah gaji.

Menurut Livia Yuliawati, pembawa materi sekaligus ketua pelaksana kegiatan seminar, ketika hidup hanya dijalani dengan mengejar materi maka kesenangan yang diperoleh sifatnya hanya sementara saja, akan tetapi ketika sesuatu dikerjakan dengan hati dan sesuai dengan minat maka itulah makna sebenarnya dari perkerjaan.

Livia juga menyatakan bahwa dunia kerja tidak selamanya menyenangkan. “Saat kerja, kita berangkat pagi untuk menghindari macet dan kemudian pulang dengan masalah-masalah, seperti macet, ngantuk, orang yang berbeda karekter dan deadline pekerjaan”, tuturnya. Akan tetapi, pembawa materi ini menambahkan dengan menjadikan pekerjaan bermakna dan untuk pemenuhan kesejahterahan psikologis, tidak hanya menjadi kebutuhan duniawi. “Permasalahan pekerjaan berusaha ditekankan agar nantinya dalam dunia kerja yang serba ada ini, siswa dapat menentukan pekerjaan yang sesuai dan tidak menyesal nantinya”, kata wanita berkacamata ini ketika ditanyai mengenai harapan dari materi yang disampaikannya.

Interaksi dengan pendengar seminar sempat beberapa kali dilakukan. Pada waktu-waktu awal, Calvin dari kelas XII-MIPA3 sempat menyuarakan pendapatnya tentang perbedaan job dan career. Menurutnya, job hanya sekedar sebagai pemenuhan kebutuhan hidup, namun career lebih kepada cara seseorang untuk menjalani hidup. Selain itu, salah satu siswa kelas XII-MIPA 3 yang bernama Delvin turut menyuarakan pemikirannnya. Ia berpendapat bahwa yang mempengaruhinya dalam memilih pekerjaan adalah gaji dan kebebasan. Menurutnya, gaji menentukan harga dirinya, sedangkan kebebasan berarti tidak dikekang oleh orang lain.

Tokoh konkret yang ditampilkan sebagai teladan adalah Alfred Nobel, Vincentius A Paulo, Nick Vujicic, Winston Churchill dan Dea Valencia. Alfred Nobel yang mulanya mencari-cari cara untuk membunuh lebih banyak orang dengan praktis dan puncaknya adalah ditemukannya dinamit. Ia sadar setelah pemberitaan yang mengabarkan tentang kematian yang menggelarinya dengan “Merchant of Death”. Setelah itu, ia mulai untuk menginvestasikan 94 % dari aset pribadinya yang didedikasikan untuk menciptakan penghargaan nobel yang diberikan pada orang-orang yang berperan dalam menjaga perdamaian dunia. Vincentius a Paulo yang berulang kali mengalami kegagalan selama mengejar harta duniawi dan menemukan tujuan hidup sebenarnya sebagai pelayan dari orang miskin dan terpinggirkan. Nick Vujicic lewat semangatnya menjalani hidup meskipun lahir dalam keadaan cacat. Winston Churchill, perdana menteri Inggris yang mendedikasikan hidupnya demi pelayanan pada negara Inggris, terutama ketika mengalami serangan dari Jerman. Dea Valencia yang terkenal dengan produk “batik kultur” memperjuangkan nilai-nilai pada orang yang difabel dengan memperkerjakan mereka sebagai pengrajin batik usaha rintisannya.

“Pekerjaan tidak hanya tentang dunia, namun juga tentang apa yang dapat diberikan pada orang lain”, begitulah yang disampaikan kembali dalam seminar ini. Dampak karir yang sebenarnya dijabarkan adalah sustainability (keberlanjutan), well-being (kesejahteraan), legacy (warisan), serta faith and value (iman dan nilai). Kesejahteraan terkait dengan kebahagiaan, menolong orang, menjalani hidup yang berarti dengan menolong orang lain. Keberlanjutan yang mengarah pada kelangsungan dari umat manusia dan dunia. Warisan yang berarti ingatan seseorang atau orang-orang tentang diri atas segala yang telah diperbuat semasa hidup dan dampak yang berkelanjutan dari apa yang telah dilakukan. Iman dan harapan atas segala yang terjadi dengan ungkapan dan kesaksian.

(ger)

Maharani Ayu Putri Irawan saat memberikan testimoni tentang seminar Impactful Career
0

You may also like

Profesi Tidak Sekedar Mengejar Materi
Misellia Ikwan: Pengawasan Orangtua Bukan Ajang untuk Mengekang Anak